SEGENAP KELUARGA BESAR HARIS SUROTO SGL Mengucapkan * SELAMAT TAHUN BARU ISLAM 1440 HIJRIAH - TAQOBALALLAHU MINNA WAMINKUM SIAMANNA WASIAMAKUM - MINAL AIDIN WAL FAIDZIN - Mohon Maaf Lahir dan Batin *

Kamis, 17 Oktober 2019

Hikmah & Makna Maulid Nabi Muhammad SAW

Madinah Negeri Maulid Nabi Muhammad SAW
Dalam hidup bermasyarakat dan bernegara sebagai umat muslim alangkah baiknya untuk menunjukkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau merupakan sosok yang amat inspiratif dan patut untuk dijadikan panutan dalam menyongsong hari-hari langkah kehidupan. Akhlaknya yang sungguh mulia, tutur katanya yang baik, sifat yang amat terpuji, dan masih banyak lagi kebaikannya. Dihari kelahirannya disebut maulid nabi tentu menjadi keberkahan yang besar bagi seisi dunia serta penunjuk menuju jalan lurus dalam meniti perjalanan. Sebentar lagi umat muslim akan memasuki hari maulid nabi yang diperingati setiap tanggal 12 Rabiul Awwal. Arti dari Maulid Nabi yakni berasal dari kata Maulid yang berasal dari bahasa Arab yang beratrti lahir. Diperingatinya Maulid Nabi Saw merupakan suatu wujud ungkapan rasa syukur dan kegembiraan serta penghormatan kepada sang utusan Allah. Nabi Muhammad SAW telah berjasa besar dalam menyampaikan ajaran agama islam sampai kepada kita menuju zaman penuh penerangan. Selain sebagai ekspresi rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW, maka peringatan maulid nabi yakni dapat mengutkan akar pondasi komitmen. Komitmen yakni berupa loyalitas tingginya rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Maka terdapat banyak hikmah dan makna dari perayaan Nabi Muhammad SAW atau dapat disingkat MAULID, adalah sebagai berikut: 

Mendorong Umat Muslim Bersama-sama Membaca Sholawat Nabi

Dengan mengumandangka sholawat maka senantiasa keberkahan atas rahmat dan ridho dari Allah SWT akan menghampiri kita. Bahwasannya sholawat nabi memiliki berbagai banyak manfaat dan keistimewaan bagi kehidupan kita. Manfaatnya yaitu dapat memudahkan terkabulnya do’a, dipermudah serta dilancarkan segala urusannya, dan diberikan syafa’at saat dihari akhir nanti. Allah SWT sangat mencintai umatnya yang gemar untuk bersholawat dan senantiasa mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: Artinya: Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (Al-Ahzab: 56) Allah SWT Memberikan Manfaat dan Kegembiraan kepada Umatnya.

Dengan lahirnya sang penyelamat umat manusia seisi dunia dan penunjuk segala jalan kebaikan maka patutu untuk disyukuri. Nabi Muhammad SAW yang telah berjuang amat besar melawan berbagai lika-liku tantangan dan ujian dalam menyampaikan ajaran islam. Hatinya yang setegar batu karang, jiwanya yang amat kokoh, lantas menjadikan umat keluar dari zaman jahiliyah berkat jalan dakwahnya.Nabi Muhammad telah memberikan pancaran terhadap peradaban zaman. Bahkan bukan hanya umat muslim yang mendapatkan manfaat dari kegembiraan tersebut, melainkan orang kafir ikut merasakannya juga. Saat Tsuwaibah yaitu budak perempuan Abu Lahab, paman Nabi, menyampaikan berita gembira tentang kelahiran sang Cahaya Alam Semesta. Seketika itu Abu Lahab pun memerdekakan budak perempuan tersebut sebagai tanda suka cita. Dikarenakan kegembiraannya maka kelak di alam baqa’ siksa atas dirinya diringankan setiap hari Senin tiba menjelang.

Ungkapan Cinta Kepada Nabi Muhammad SAW

Menjadi seorang mukmin maka bahwa kecintaan terhadap Nabi Muhammad SAW merupakan sebuah keniscayaan, sebagai wujud dari keimanan. Besarnya rasa cinta pada utusan Allah SWT harus berada di atas segalanya. Cintanya harus dapat melebihi kecintaan pada keluarga, kecintaan terhadap harta, kedudukannya, bahkan kecintaannya terhadap dirinya sendiri. Tanpa Beliau dan Allah SWT mungkin kita tidak akan dapat merasakan kebahagiaan dan keberkahan seperti saat ini.

Rasulullah bersabda, dalam Hadits Riwayat Bukhari “Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orangtua dan anaknya. (HR. Bukhari).”

Maka dengan semakin meningkatkan rasa cinta kepada Allah SWT serta utusan-Nya yaitu Nabi Muhammad SAW, keberkahan akan terselimuti. Manisnya iman akan terasa dalam kalbu, ketenangan jiwa akan terngiang dalam benak, kelak senantiasapi meresapi tanda cinta-Nya. Rasa cinta Nabi Muhammad SAW yang begitu besar kepada umatnya tidak akan dpaat tergantikkan oleh apapun yang ada pada dunia. Lestarikan Visi dan Misi Perjuangan Jihad Nabi Muhammad SAW Dengan memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau biasa disebut Maulid Nabi, maka akan mengingatkan kita dengan perjuangan Beliau. Beliau yang senantiasa ber-Fastabiqul-Khairat yakni berlomba-lomba dalam kebaikan untuk umatnya harus dapat diteruskan oleh penerus generasi. Jadilah umat muslim yang dapat meneladani dan meneruskan jejak dakwah Beliau dengan tujuan meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT. Senantiasa melaksanakan kewajiban dan sunnah-sunnah ajaran Nabi Muhammad SAW dengan mengejar ridho Allah SWT untuk kehidupan lebih berkah.

Rasulullah SAW bersabda, “Aku tinggalkan pada kalian dua hal, kalian tidak akan tersesat dengannya, yakni Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya sallallahu alaihi wa sallam” (HR. Malik)

Iringi kehidupan meneladani perilaku dan perbuatan mulia Nabi Muhamad SAW

Nabi Muhammad SAW merupakan utusan Allah yang begitu mulia akhlaknya, baik tutur katanya, dan sangat pantas untuk dijadikan panutan kehidupan. Semasa hidupnya Beliau begitu banyak memberikan nilai kehidupan dan ajaran islam yang begitu bermafaat. Dengan senantiasa mengiringi kehidupan dengan meneladani Rasulullah SAW maka Allah SWT akan senantiasa memberkahi dan merahmati kita. Jadikanlah roda kehidupan dengan berporos pada tauladan sang pencerah kehidupan yakni Rasulullah SAW.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Marilah kita jadikan keteladanan Rasul ini dalam keseharian kehidupan yakni dari hal terkecil, hingga paling besar, mulai kehidupan duniawi, hingga akhirat. Tanamkan pula keteladanan terhadap Rasul ini pada orang terdekat kita, melalui kisah-kisah saat berkumpul bersama. Sehingga mereka tidak menjadi pengidola publik figur yang berakhlak rusak yang mereka lihat dari media yang tidak sesuai syariah islam.

Al-Imam al-Suyuthi dari kalangan ulama’ Syafi’iyyah mengatakan: “Perayaan maulid termasuk bid’ah yang baik, pelakunya mendapat pahala. Sebab di dalamnya terdapat sisi mengagungkan derajat Nabi Saw dan menampakan kegembiraan dengan waktu dilahirkannya Rasulullah Saw”. 

Dalam kesempatan yang lain, beliau mengatakan: “Sunah bagi kami untuk memperlihatkan rasa syukur dengan cara memperingati maulid Rasulullah Saw, berkumpul, membagikan makanan dan beberapa hal lain dari berbagai macam bentuk ibadah dan luapan kegembiraan”.

Dari kalangan Hanafiyyah, Syaikh Ibnu ‘Abidin mengatakan: “Ketahuilah bahwa salah satu bid’ah yang terpuji adalah perayaan maulid Nabi pada bulan dilahirkan Rasulullah Muhammad Saw”. 

Bahkan setiap tempat yang di dalamnya dibacakan sejarah hidup Nabi Saw, akan dikelilingi malaikat dan dipenuhi rahmat serta ridla Allah Swt.

Dapatkan Pahala bagi yang mengadakan dan menghadirinya diirngi sedekah

Dengan mengadakan peringatan kelahiran Nabi Muhammad Saw, dengan cara mengumpulkan banyak orang, dan dibacakan ayat-ayat al-Quran dan diterangkan (diuraikan). Serta mempelajari sejarah kehidupan dan perjuangan Nabi sejak kelahiran hingga wafatnya, diadakan sedekah berupa makanan hidangan lainnya merupakan perbuatan baik. Maka akan mendapatkan pahala bagi orang yang mengadakannya dan yang menghadirinya. Dikarenakan terdapat rincian beberapa ibadah yang dituntut oleh setara serta sebagai wujud kegembiraan, kecintaan atau mahabbah kapada Rasullullah saw.

Demikianlah penyampaian hikmah nan makna perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW semoga dapat senantiasa menjadi umat muslim yang Istiqomah. Istiqomah dalam meneladani sifat Rasulullah SAW sebagai wujud besar rasa cintanya dengan meningkatkan iman dan takwa.
Jadikanlah Nabi Muhammad SAW senantiasa dikalbu, kelak keberkahan akan melimpah nan memancar di hari esok dan seterusnya.

Kamis, 21 Maret 2019

AMALAN MENYAMBUT BULAN SUCI RAMADHAN

Tidak terasa bulan semakin mendekati bulan Ramadhan. Hal ini bisa kita rasakan pada kehidupan di sekitar kita. Semangat untuk melakukan ibadah dan beramal sholeh semua orang terasa semakin bertambah semangat dan meriah.

Bahkan masjid dan mushalla sudah mulai meningkat jamaahnya, dan pengurus masjid sudah mulai berbenah diri untuk menyambut, tarawih, tadarrus dan buka bersama.

Lantas apa amalan-amalan yang sebaiknya dilakukan dalam rangka menyambut bulan Suci Ramadhan ini?

Pertama, amalan terpenting itu adalah amalan hati, yaitu niat menyambut bulan Ramadhan dengan lapang hati (ikhlas) dan gembira. Karena hal itu dapat menjauhkan diri dari api nereka.

Sebuah hadits yang termaktub dalam Durrotun Nasihin menjelaskan dengan.

مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلىَ النِّيْرَانِ

"Siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka".

Begitu mulianya bulan Ramadhan sehingga untuk menyambutnya saja, Allah telah menggaransi kita selamat dari api neraka. Oleh karena itu wajar jika para ulama salaf terdahulu selalu mengucapkan doa:

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبَ وَ شَعْبَانَ وَ بَلِغْنَا رَمَضَانَ

"Ya Allah sampaikanlah aku dengan selamat ke Ramadhan, selamatkan Ramadhan untukku dan selamatkan aku hingga selesai Ramadhan".

Sampai kepada Ramadhan adalah kebahagiaan yang luar biasa, karena hanya di bulan itu mereka bisa mendapatkan nikmat dan karunia Allah yang tidak terkira. Tidak mengherankan jika kemudian Nabi saw dan para sahabat menyambut Ramadhan dengan senyum dan tahmid, dan melepas kepergian Ramadhan dengan tangis.

Kedua, berziarah ke makam orangtua; mengirim doa untuk mereka yang oleh sebagain daerah dikenal dengan istilah kirim dongo poso. Yaitu mengirim doa untuk para leluhur dan sekaligus bertawassul kepada mereka semoga diberi keselamatan dan berkah dalam menjalankan puasa selama sebulan mendatang. Tawassul dalam berdo’a merupakan anjuran dalam islam. Sebagaimana termaktub dalam Surat al-Maidah ayat 35

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّـهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (Q.S. al-Maidah: 35)

Diriwayatkan pula dari sahabat Ali bin Abi Thalib, bahwa Rasulallah Muhammad s.a.w ketika menguburkan Fatimah binti Asad, ibu dari sahabat Ali bin Abi Thalib, beliau berdoa :

اَللَّهُمَّ بٍحَقٍّيْ وَحَقِّ الأنْبٍيَاءِ مِنْ قَبْلِيْ اغْفِرْلأُمِّيْ بَعْدَ أُمِّيْ

Artinya: Ya Allah dengan hakku dan hak-hak para nabi sebelumku, Ampunilah dosa ibuku setelah Engkauampuni ibu kandungku. (H.R.Thabrani, Abu Naim, dan al-Haitsami) dan lain-lain.

Ketiga, saling memaafkan. Mengingat bulan Ramadhan adalah bulan suci, maka tradisi bersucipun menjadi sangat seseuai ketika menghadapi bulan Ramadhan. Baik bersuci secar lahir seperti membersihkan rumah dan pekarangannya dan mengecat kembali mushalla, maupun bersuci secara bathin yang biasanya diterjemahkan dengan saling memaafkan antar sesama umat muslim. Terutama keluarga, tetangga dan kawan-kawan. Hal ini sesuai dengan anjuran Islam dalam al-Baqarah ayat 178;

فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ

"Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (dia) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih".(QS. 2:178)

Menurut sebuah hadis shahih, Nabi Muhammad saw. Pernah menganjurkan agar siapa yang mempunyai tanggung jawab terhadap orang lain, baiknya itu menyangkut kehormatan atau apa saja, segera menyelesaikannya di dunia ini, sehingga tanggung jawab itu menjadi bebas (bisa dengan menebus, bisa dengan meminta halal, atau meminta maaf). Sebab nanti di akherat sudah tidak ada lagi uang untuk tebus menebus. Orang yang mempunyai tanggungan dan belum meminta halal ketika dunia, kelak akan diperhitungkan dengan amalnya: apabila dia punya amal saleh, dari amal salehnya itulah tanggungannya akan ditebus; bila tidak memiliki, maka dosa atas orang yang disalahinya akan ditimpakan kepadanya, dengan ukuran tanggungannya. (Lihat misalnya, jawahir al-Bukhori, hlm. 275, hadis nomer: 353 dan shahih Muslim, II/430).

Dengan kata lain, jika seseorang ingin bebas dari kesalahan sesama manusia, hendaklah meminta maaf kepada yang bersangkutan. Begitu pula jika seseorang menginginkan kesucian diri guna menyambut bulan yang suci maka hendaklah saling memaafkan.


Senin, 11 Februari 2019

DIRGAHAYU KOTA TANGERANG YANG KE-26


Semoga Kota Tangerang Masyarakatnya semakin MAJU, MAPAN DAN SEJAHTERA.
mari kita bangun bersama-sama Kota Tangerang yang Berakhlaqul Karimah.