SEGENAP KELUARGA BESAR HARIS SUROTO SGL Mengucapkan * SELAMAT TAHUN BARU ISLAM 1440 HIJRIAH - TAQOBALALLAHU MINNA WAMINKUM SIAMANNA WASIAMAKUM - MINAL AIDIN WAL FAIDZIN - Mohon Maaf Lahir dan Batin *

Selasa, 31 Juli 2012

TAQWA PENENTU KEMENANGAN

( AHLI SYURGA ) TAQWA PENENTU KEMENANGAN - Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, panutan yang mulia dan agung, tidak pernah tergoda sedikitpun dengan pernik-pernik dunia. Jika baginda Rasulullah Shallahu Alaihi Wasslam, tergoda dengan kehidupan dunia, maka beliau manusia yang pertama, memiliki kekuasaan, jabatan, harta, dan isteri-isteri yang paling cantik, yang pernah ditawarkan kafir Qurays. Teta...pi, itu bukanlah pilihan oleh panutan yang mulia, Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam


Ketika awal dakwahnya, beliau di Makkah, sudah mendapatkan tawaran dari para pembesar kafir Qurays, agar Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, mau melakukan "tanazzul" (kompromi) dengan kafir Qurays. Tetapi, Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam menolak. Segala atribut dunia ditawarkan oleh kafir Qurays. Jabatan, harta, dan wanita (Tiga T), tetapi tetap Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, lebih memilih tetap dalam ketaatannya kepada Allah Rabbul Alamin.

Beliau Shallahu Alaihi Wassalam tetap dengan sabar terus mendakwahkan agama Allah ke seluruh penduduk di jazirah Arab. Rasulullah tetap berdakwah, mendidik, mengajarkan al-Qur'an kepada masyarakat, dan dari rumah ke rumah. Sampai Allah Azza Wa Jalla mempertemukan dengan kafir Qurays dalam medan jihad, dan hanya dengan dibantu para shahabat yang jumlahnya masih sedikit.

( Sejarah Kemenangan )

Allah Azza Wa Jalla, memberikan kemenangan kepada Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, yang kemudian dikenal dalam sejarah sebagai Perang Badr, dan sejarah mencatatnya sebagai kemenangan pertama dalam Islam, Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, mengalahkan kafir Qurays di Makkah, yang dikenal dengan "Fathul Makkah". Rasulullah tidak membuat skenario dan rencana atas kemenangannya. Tetapi, semuanya itu, yang membuat skenario adalah Allah Azza Wa Jalla.

Rasulullah Shallahu Alalihi Wassalam, hanya mengajak para shahabat, tunduk, patuh, taat serta bertaqwa kepada Allah Rabbul Alamin. Karena, hanya dengan ketaatan, ketundukan, dan serta kepatuhan kepada Allah Rabbul Alamin itu, yang akan membawa kemenangan, tidak ada bantahan, pendapat-pendapat dilandasi nafsu kenyamanan duniawi, semua tunduk kepada Allah dan Rasul. Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, terus mengajarkan sifat taqwa dan hirsy (semangat) kepada seluruh shahabat.

Sifat taqwa dan hirsy itulah yang membawa kemenangan dalam dakwah Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam. Kemenangan tidak ada kaitannya dengan sedikit atau banyaknya pengikut. Tetapi, kemenangan dalam Islam itu, sangat ditentukan sifat taqwa dan hirsy dari para shahabat. Semuanya itu dibuktikan dalam sejarah. Peristiwa yang terjadi dalam Islam, dan kemenangan Islam itu, selalu identik dengan sifat taqwa dan hirsy. Sebaliknya kekalahan dan kehinaan itu, selalu identik dengan kesarakahan dan terbuai dengan kenikmatan duniawi.

( Pelajaran Kekalahan )

Perang Uhud kalah dilatari oleh sebagian tentara umat Islam tergiur dengan harta yang disebarkan sebagai pancingan musuh, ketika itu pasukan panah tidak lagi menuruti perintah Rasulullah SAW untuk bertahan diatas bukit, tetapi malah turun kebawah ketika melihat harta yang di sebar-sebarkan.

Kekalahan kaum Muslimin di Eropa seperti dikisahkan dalam buku cerita yang berjudul "Granada", menggambarkan para Sultan, yang sudah dibeli oleh para Kaisar Kuffar, dan mendapatkan kekuasaan, dan mereka di baptis, dan harus meninggalkan agama mereka, yang selama ini menjadi keyakinan mereka. Islam pernah berjaya selama 8 abad di daratan Eropa, dan kemudian hilang, akibat para penguasanya sudah tertipu dunia. Dikala itu kelalaian nampak dimana-mana, harta berlimpah ketika menjadi lalai itulah waktu-waktu menuju kehancuran baik skup pribadi, masyarakat, bahkan dunia. Kita masih ingat pristiwa Bosnia, kaum muslimin disana sebelumnya terbuai dengan budaya eropa, menganggap Islam bukan sebagai identitas disebagian besar masyarakatnya, kemakmuran akhirnya menjadi petaka, dan pelajaran bagi kita semua.

Kekalahan karena terlampau cinta duniawi, dikala yahudi dan sekutunya berlomba-lomba bekerja sama menindas negeri-negeri Muslim, dengan harta yang sangat banyaknya. Justru Umat Islam termakan dengan umpan2 syahwat, kekikiran, sangat berbeda kontras dengan para shahabat Rosul dalam memperjuangkan Islam agar tegak menjadi rahmat seluruh alam.

Semua sudah dicontohkan Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, dan semua sangat nyata dalam kehidupan beliau. Rasulullah bersama Siti Khadijah, orang yang paling kaya, karena sukses dalam berdagang. Tetapi, Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, manusia yang paling miskin, di saat beliau meninggal. Tidak ada harta yang ditinggalkan. Sedikitpun yang bisa dinilai.

Bilal bin Rabah tak pernah mau bersedia mengikuti kafir Qurays, dan mengikuti agama mereka. Meskipun menghadapi siksaan yang amat dahsyat. Di jemur di terik matahari, dan diikat serta diseret dengan kuda di padang pasir. Tetapi, Bilal bin Rabah, tak mau menukar aqidah dengan kenikmatan dunia

Merekalah Rasulullah SAW, shahabatnya adalah manusia yang distatuskan bertaqwa,standarisasinya mereka bukan siapapun, taqwa dalam mengutamakan Allah dan agama-Nya, tidak heran ketaqwaan ini sangat mahal, boleh jadi hanya 100.000 banding satu, seperti sedikitnya manusia2 pilihan yang Allah pilih menjadi Rasulnya. Didunia kelas VIP kita kejar, jabatan karier teratas pada berlomba2, padahal mudah hilang, lenyap tertelan waktu, bahkan banyak sekali yang merana, sakit jiwa lahir dan bathin dimasa tuanya, tanpa amal-amal yang pasti, bahkan berpotensi lumuran dosa, karena kekayaan yang dipakai tidak sesuai jalan para Nabi dan Shahabat sebagai manusia terbenar yang Allah pilihkan untuk kita teladani.

Merekalah yang tersukses dalam taqwa, dimana prosesnya ada dalam Ramadhan ini, kita dilatih berkorban bathin, berkorban menelaah hati agar tunduk kepada Allah SWT, agar bertaqwa, taqwa yang standarisasinya para Nabi dan Shahabatnya, bukan orang lain yang gak aman fitnah dan ujian, dan gak ada di Quran sebagai manusia yang diredhoi Allah SWT.

Taqwa itu cinta, cinta perusahaan jelas orang menghabiskan mengembangkan usahanya, habis2an. Cinta bukan sekedar kata, dan ucapan tanpa perjuangan, orang yang masuk ramadhan tanpa cinta biasanya bakal kalah ditengah jalan, orang yang gak meniatkan yang terbaik berkorban demi Allah swt maka biasanya mudah tergoda ternoda, Di Ramadhan ini adalah tempat kita evaluasi dir, hidup akan kemana, untuk apa, dan kepada siapa yang kita tuju, seperti yang kita baca disetiap awal shalat-shalat kita

( Pembeda Haq dan Bathil )

Tugas para pengikut Rasulullah Shallahu Alaihis Wassalam, hanyalah mendakwahkan agama-Nya kepada seluruh umat manusia. Dengan segala pengorbanan. Bukan dengan menggunakan agama menjadi alat kedok, mensiasati Allah dan Rasulnya, agar mendapatkan kemenangan dunia yang hina dina itu. Manusia-manusia yang menipu Allah Rabbul Alamin, dan mereka tidak berdakwah yang menegakkan agama-Nya, pasti akan menjadi hina.

Kewajiban seorang Mukmin hanyalan mendakwahkan agama Allah, dan membela agama-Nya. Itulah jalan kemenangan yang akan diberikan kepada Allah kepada Mukmin.

Tidak bertanazzul (berkompromi) dengan musuh-musuh Allah, yahudi dan nasrani, mengikuti ajaran mereka, dan menjadikan mereka sebagai teman setia, dan kemudian meninggalkan aqidahnya, serta mengubahnya dengan nilai-nilai jahiliyah dan kafir.

Cara-cara bertanazzul itu bukanlah jalan Islam, jalan kebenaran yang diberikan oleh Rasulllah Shallahu alaihi Wassalam. Tidak akan pernah terjadi dalam hidup ini, antara al-haq dengan al-bathil itu bisa bersatu.
 
By Yusuf Mansyur Network on Facebook

SEDEKAH MENEMBUS KESULITAN

( KEJIWAAN ) SEDEKAH MENEMBUS KESULITAN - Balasan sedekah tidak berarti berupa materi, namun bisa saja berkah sedekah tersebut berimbas pada ketenangan hati, khusyuknya ibadah, terjaganya diri dari belanja sia-sia. Selain itu manfaat sedekah juga mampu menjadikan manusia sebagai pribadi yang mampu ikhlas kapan saja harta titipan Allah itu harus lepas dari tangannya. Biasa sedekah mental dan jiwany...a kokoh, gak gantung sama duniawi suatu saat ada ujian hilang harta ia akan kuat kebiasa gak cinta berlebihan sama harta. Dengan sedekah waktu berlalu gak akan sia-sia, harapan hidupnya digantungkan kepada Allah. Jiwanya akan lapang, ketenangannya bersama jaminan kebesaran Allah SWT yang memiliki kehidupan, secara lahir bathin orang demikian akan sehat jauh dari sakit jiwa


Sedekah itu memang berat jika tidak dilandasi iman yang kuat, padahal Allah menjanjikan balasan yang luas bagi insan yang menyedekahkan hartanya untuk kepentingan di jalan Allah.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tuju bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-NYA) lagi Maha Mengetahui” (Al Baqarah 261).

Orang yang dermawan akan menjadikan keimanan diri mereka boss atas diri, harta dan hatinya. Iman yang menguasai jiwanya, maka kehidupannya akan nyaman. Beda dengan nafsu yang menguasai jiwa seseorang.

Seseorang tidak akan mencapai tingkat kebajikan di sisi Allah, sebelum ia dengan ikhlas menginfakkan harta yang dicintainya di jalan Allah.

Dahulu, setelah surat Ali imron ayat 92 turun, ("Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apapun yang kamu infakkan, tentang hal itu, Allah Maha Mengetahui"), para sahabat berlomba-lomba berbuat kebaikan.

Abu Thalhah Al-Anshari seorang hartawan dikalangan Anshar datang menemui Rasulullah saw. dengan memberikan sebidang kebun kurma yang dicintainya untuk diinfakkan di jalan Allah.

Pemberian itu diterima oleh Rasulullah dengan baik dan memuji keikhlasannya.

Allah SWT Berfirman artinya :

Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat buruk (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui" (Qs Al-Baqarah 268).

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna ayat "Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan", maksudnya: setan menakut-nakuti kalian dengan kefakiran supaya kalian tetap menggenggam tangan kalian, sehingga tidak menginfakkanya dalam keridhaan Allah.

Sedangkan ayat "Dan menyuruh kamu berbuat buruk", maksudnya: bersama larangannya kepada kalian dari berinfak karena takut miskin, setan menyuruh kalian dengan kemaksiatan, perbuatan dosa, keharaman, dan menyalahi perintah yakni Allah Ta'ala. Membelanjakan kepada kelalaian, nonton bioskop, dugem, bertamasya menghabiskan waktu di mall-mall hingga menjadi kebiasaan menyita sebagian besar waktu dan akhirnya hatinya menjadi keras, anaknya menjadi manja, kecenderungan tersebut menjadi rutinitas tanpa disadari hatinya menjadi asoy duniawi, keluarga kebawa lalai, kelamaan kehidupannya menyimpang, anaknya menjadi penuntut harta warisan, tukang palak, istrinya menjadi matre, kehidupannya menjadi kiamat lalu mengeluh-mengeluh kenapa begini, kenapa begitu karena kejiwaannya dibawa kepada kecenderungan duniawi, kejiwaannya dibawa kepada kepusingan kehidupan yang sempit, kejiwaannya terlalu terbudaki dunia, sampai rejekinya disita suatu saat kelak, berujung ajal dengan beban yang gak ringan.

Kembali kepada tafsir ayat diatas, menurut Al-Jazairi, ayat "Dan menyuruh kamu berbuat buruk" berarti setan menyeru kalian untuk mengerjakan perbuatan buruk, di antaranya bakhil dan kikir. Karenanya Allah Ta'ala memperingatkan para hamba-Nya dari setan dan godaannya, lalu mengabarkan bahwa setan menjanjikan dengan kefakiran, artinya: menakut-nakuti mereka dengan kemiskinan sehingga mereka tidak mengeluarkan zakat dan shadaqah. (Sebaliknya) ia menyuruh mereka untuk berbuat buruk sehingga mengeluarkan harta mereka dalam keburukan dan kerusakan

Dalam hadits Mu'adz, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

والصَّدقَةُ تُطْفِئُ الخَطيئَةَ كَما يُطفئُ الماءُ النارَ ، وصَلاةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوفِ اللَّيلِ

"Shadaqah menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan shalat seseorang di tengah malam." (HR. Al-Tirmidzi)

Abu Darda' Radhiyallahu 'Anhu berkata,

صلوا في ظلمة الليل ركعتين لظلمة القبور، صوموا يوماً شديداً حرُّه لحر يوم النشور، تصدَّقوا بصدقة لشرِّ يوم عسير

"Shalatlah dua rakaat di kegelapan malam untuk gelapnya kubur, berpuasalah di hari yang sangat panas untuk (menebus) panasnya hari perhimpunan, dan bershadahlah dengan shadaqah (menebus) untuk hari yang sulit."
 
By Yusuf Mansyur Network on Facebook

Jumat, 27 Juli 2012

SHALAT SEBAGAI SARANA PENOLONG

( HIKMAH ) SHALAT SEBAGAI SARANA PENOLONG - Rasulullah saw selalu menjadikan shalat sebagai solusi berbagai masalah seperti yang kita baca dalam berbagai riwayat. Hudzaifa bin Al Yaman menceritakan, “Jika Rasulullah saw ditimpa sebuah kesulitan beliau bersegera melaksanakan shalat.” Begitu juga yang diriwayatkan oleh Haritsah bin Madhrib, Aku mendengar Ali ra. berkata, ‘Kamu melihat kami dan segal...a keadaan kami pada malam perang Badar kecuali Rasulullah saw, beliau mengerjakan shalat dan berdo’a hingga datang waktu subuh.’”


Sering kali jika seseorang sakit dia seolah-olah ada alasan untuk tidak shalat. Padahal bila sebisanya diusahakan sesuai kemampuan, sesuai syarat2 Shalat Insya Allah akan meringankan bebannya dan penyakitnya

Ada banyak waktu dimana kita bisa selalu berinteraksi dengan Allah, melalui shalat 5 waktu yang wajib belum shalat sunnahnya. Bagaimana mungkin Allah akan meninggalkan hamba yang selalu mengingatnya. Ketika kita memohon ampun seperti itulah kita harus bersedia sebenarnya menempatkan diri kita sebagai benar-benar seorang hamba.

Allah SWT Berfirman. "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS Al Baqarah:45-46)

Bukan sembarang shalat yg akan menjadi penolong kita. Dalam ayat tersebut, disebutkan bahwa orang yg bisa menjadikan shabar dan shalat sbg penolong ialah mereka yang khusyu’. Tidak ada ukuran baku dalam shalat khusyu’, oleh karena itu kembali kita meminta kepada Allah SWT agar menjadikan shalat kita dengan khusyu’.

Shalat yang khusyu adalah shalat yang dikerjakan dalam nuansa harap, cemas, dan cinta, serta dengan takbir yang sempurna, lantunan ayat yang tartil, ruku’ dengan tawadhu, sujud dengan diliputi kerendahan hati dan keikhlasan. Tentu tidak lupa harus sesuai dengan syariat.

Shalat adalah sebagai penghubung rasa penghambaan kita kepada Allah, sejatinya Shalat sebagai Tiang yang menyangga nilai2 Keislaman pada diri kita.

Berusaha yang terbaik sbg seorang hamba itulah yg menjadi fikirannya saban hari, karena saat shalatnya bertakbir Allahuakbarnya beneran diamalin dikehidupan keseharian, Subhanallah dalam sujudnya juga beneran dia mensakralkan nilai2 Islam, gak ada celaan sama hukum2 Allah, melihat ayat dan hadist langsung diresapi, diterima dan diusahakan diamalin, maka Insya Allah itulah rata2 seorang hamba yg berhasil Shalat, ya seperti para Shohabat Rasulullah SAW, Tabiin dimana didalam Quran memuji mereka sekaligus petunjuk kita dalam mengamalkan Islam

Hari esok adalah ghaib, kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok, bisa saja esoklah datangnya kemudahan tersebut. Jadi selalu ada harapan di hari esok. Justru jika kita tidak memiliki harapan di hari esok, artinya kita sudah sok mengetahui apa yang akan terjadi esok hari. Kita menganggap esok hari akan seperti ini saja, maka sama artinya kita mendahului ketentuan Allah SWT. Allahlah yang

menentukan hari esok akan seperti apa, dan kita memang tidak diberitahu. Bisa saja besok hidup kita lebih baik. Besok, selalu ada harapan untuk kita. Begitu juga dengan rezeki, mungkin saat ini begitu sulit karena akan ada kemudahan setelah ini. Jangan sampai kita menyerah dengan cara tidak mau mencari rezeki yang lebih besar karena takut kehilangan rezeki yang sudah ada.

Ada juga yang berharap kepada orang dengan cara menjilat dan merendahkan diri dihadapan orang lain. Allah sudah menyiapkan rezeki bagi kita, jadi meskipun saat ini serasa sulit, sebenarnya sudah Allah siapkan untuk kita, maka tambahlah infaq sedekah, ibadah2 lain semampunya, lalu tambah doa, memperbaiki pula semua kekurangan, dakwah ikutin sunnah Nabi dan Walinya yg doanya hebat2 berkat izin Allah Swt, itulah yang lebih jaminan dibanding apa yang ada didunia yang serba gak jamin. Binatang aja dijamin, apalagi manusia yang punya akal, fikiran, dan keyakinan di jalan-Nya,

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempatpenyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).(QS. Huud:6).
 
By Yusuf Mansyur Network on Facebook

JANGAN DISIA-SIAKAN BULAN ISTIMEWA

( BEKAL RAMADHAN ) JANGAN DISIA-SIAKAN BULAN ISTIMEWA - Orang yang celaka adalah yang dihalangi dari rahmat Allah SWT pada bulan Ramadhan. Adalah wajib untuk mengingatkan diri tentang keutamaan bulan ini dan mempersiapkannya untuk beramal di dalamnya. Ramadhan telah mendorong amal yang banyak dan kewajiban yang luhur, seperd puasa, shalat, dzikir, serta membaca kitab Allah yang bisa membersihkan j...iwa dan menghidupkan hati. Nabi SAW bersabda, Puasa dan Al-Qur'an, pada hari kiamat akan memberikan syafaat kepada hamba. Puasa berkata, 'Rabbi, aku telah mencegahnya dari makan dan syahwat, maka perkenankan aku memberikan syafaat kepadanya.' Al-Qur'an berkata, 'Rabbi, aku telah mencegahnya dari tidur malam, maka perkenankan aku memberikan syafaat kepadanya.' Maka keduanya di perkenankan memberikan syafaat kepadanya.


Rasul SAW membaca dan mempelajari Al-Qur'an di hadapan Jibril pada bulan Ramadhan, sekali. Dan pada tahun terakhir beliau membacanya dua kali. Dakwah Anda semua adalah dakwah Al-Qur'an, sedangkan Anda sekalian mengatakan, "Al-Qur'an adalah pedoman hidup kami." Maka, bulan Ramadhan adalah dakwah Anda. Perbanyaklah membaca Al-Qur'an dan renungkan kandungannya, karena Anda akan mendapatkan kenikmatan baru padanya ketika membaca ulang, sekalipun Anda seorang hafizh (penghafal) Al-Qur'an.

Anda akan merasakan pengaruh yang menakjubkan jika membacanya dengan penghayatan makna. Jangan berusaha memahaminya dengan mendalami hal-hal yang pelik-pelik dan kajian yang njlimet, tetapi bacalah sebagaimana para sahabat Rasulullah SAW membacanya. Barangsiapa membacanya seperti ini, maka untuk setiap huruf yang dibacanya ia mendapat sepuluh kebaikan, dan Allah melipatgandakan pahala bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mendengarkan satu ayat dari kitab Allah, maka ia akan mendapatkan cahaya dan petunjuk pada hari kiamat.

Hendaklah ketika Ramadhan kita benar-benar berusaha agar tidak ada waktu yang berlalu tanpa amal shalih. Jika Anda lalai, hendaklah kalian segera menyadari kelalaian Anda. Jika dalam sehari Rasulullah SAW bertaubat seratus kali, sedangkan sebagaimana Anda tahu, Allah telah mengampuni segala dosa beliau yang lalu maupun yang akan datang, maka bagaimana pendapat Anda tentang orang yang diliputi oleh perbuatan maksiat dari segala penjuru serta tenggelam dalam kesenangan dan syahwatnya. Maka kewajiban kita adalah memperbanyak istighfar apalagi kita berada dalam bulan suci. Kita menghadap kepada Allah dengan keimanan sempurna dan keikhlasan yang tulus, seraya memohon agar Dia memberi kita kemampuan untuk menempuh sebab-sebab.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murniya, mudah-mudahan Tuhan kalian akan menutupi kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. (QS.At-Tahrim: 8)

Rasulullah SAW adalah manusia yang paling dermawan dan kedermawanan beliau paling besar terlihat pada bulan Ramadhan. Berusahalah agar, Anda mempunyai amalan yang tidak Anda tinggalkan selama bulan Ramadhan. Bersemangatlah dalam melaksanakan shalat tarawih. Kita melaksanakannya dengan membaca seluruh Al-Qur'an, delapan rakaat. Shalat tarawih merupakan salah satu sunah muakadah serta syiar dan kekhususan bulan Ramadhan. Ia adalah wadah tempat hati seorang muslim berhubungan dengan Tuhannya. Nabi SAW didatangi oleh Jibril pada bulan Ramadhan, lantas membacakan Al-Qur'an di hadapannya. Karena Ramadhan adalah puasa di siang hari sekaligus cocok untuk menjadi bulan bangun di malam hari, sedangkan malam sangat cocok untuk dilaksanakan shalat. Jumlah rakaat dalam shalat tarawih adalah delapan, itulah yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW. Bisa pula dua puluh rakaat, yaitu sebagaimana yang dilaksanakan oleh Umar ra. Ada pula yang melaksanakan tiga puluh enam rakaat, dan ini sebagaimana yang dilaksanakan oleh penduduk Madinah. Masing-masing mempunyai dasar dari sunah.

Tujuan pelaksanaan shalat tarawih adalah menjalin interaksi dengan Allah dan Kitabullah. Disunahkan untuk memanjangkan shalat tarawih ini. Shalat tarawih tidak dimaksudkan untuk memperbanyak rakaat saja, sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan orang, sambil melaksanakannya secara tergesa-gesa sehingga menjadikannya cacat, sementara mereka lupa bahwa shalat tarawih ddak lain untuk menikmati kitabulah dan inilah rahasia di dalamnya. Jika ada pertentangan antara kedua hal itu, maka mencukupkan dengan delapan rakaat panjang lebih baik daripada dua puluh rakaat dengan tergesa-gesa. Diriwayatkan dari Abu Bakar ra. yang berkata, "Kami meninggalkan shalat tarawih, agar orang-orang yang berpuasa bisa segera makan sahur, lantaran khawatir terbitnya jajar. "

Mereka biasa membaca seluruh surat Al-Baqarah, bersandar di atas tongkat karena lamanya berdiri dan membaca, sehingga mereka bisa menkmati kitab Allah. Yang dikehendaki dalam pelaksanaan shalat ini adalah perhatian terhadap jiwa pensyariatannya, pelaksanaannya sebaik mungkin, dan pemanfaatan kesempatan untuk mendengar bacaan Al-Qur'an. (Tim FB YM Net)
 
By Yusuf Mansyur Network on Facebook

( HIKMAH ) NIKMAT BESAR RAMADHAN

( HIKMAH ) NIKMAT BESAR RAMADHAN - Berjumpa dengan bulan Ramadhan merupakan kenikmatan yang sangat besar. Maka selayaknya seorang muslim benar-benar merasakan dan menjiwai nikmat tersebut. Betapa banyak orang yang terhalang dari nikmat ini, baik karena ajal telah menjemput, atau karena ketidakmampuan beribadah sebagaimana mestinya, karena sakit atau yang lainnya, ataupun karena mereka sesat dan ma...sa bodoh terhadap bulan yang mulia ini. Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim bersyukur kepada Allah atas karuniaNya ini.


Ibnu Rajab berkata, "Barangsiapa yang pada bulan Ramadhan ini tidak beruntung, maka kapan lagi dia bisa beruntung?

Barangsiapa yang pada bulan suci ini tidak bisa mendekatkan dirinya kepada Allah, maka sungguh dia sangat merugi."

Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ رُخْصَةٍ وَلاَ مَرَضٍ لَمْ يَقْضِ عَنْهُ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ وَإِنْ صَامَهُ

Siapa saja tidak menunaikan shaum Ramadhan sekalipun sehari tanpa alasan rukhshah atau sakit, hal itu merupakan dosa besar yang tidak bisa ditebus, bahkan seandainya ia menunaikan shaum sepanjang masa. (HR at-Tirmidzi).

Menjelang bulan Ramadhan, Rasulullah saw. senantiasa mengumpulkan para Sahabatnya. Rasul kemudian menyampaikan kepada mereka hikmah dan keutamaan Ramadhan dan puasa. Ini dilakukan oleh Rasul dalam rangka mengingatkan kaum Muslim akan datangnya bulan penuh berkah. Beliau memompa semangat para Sahabat agar mereka bergembira dan menyongsong sepenuh hati kedatangan bulan Ramadhan.

Kebaikan Rasulullah saw. Pada bulan Ramadhan melebihi angin yang berhembus karena begitu cepat dan banyaknya. Dalam sebuah hadis disebutkan:

أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ صَدَقَةُ رَمَضَانَ

Sebaik-baiknya sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadhan (HR al-Baihaqi, al-Khatib dan at-Tirmidzi).

Keutamaan mesti diketahui oleh kaum Muslimin, Mengetahui dan menjaga rambu-rambu shaum Ramadhan. Rasulullah saw. Bersabda (yang artinya):

Siapa saja yang menunaikan shaum Ramadhan, kemudian mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yang semestinya diperhatikan, maka hal itu akan menjadi pelebur dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya. (HR Ibnu Hibban dan al-Baihaqi).

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Hari-hari dan malam-malamnya merupakan waktu utama/mulia. Alangkah ruginya jika kesempatan ini tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, terutama dengan memperbanyak zikir dan doa. Ada beberapa waktu mustajab yang bisa dijumpai pada bulan Ramadhan, di antaranya: Ketika berbuka, orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak; sepertiga malam terakhir sewaktu Allah SWT turun.

Amalan Ramadhan Rasul tidak hanya terbatas pada aktivitas ibadah semata. Aktivitas dakwah dan sosial pun tak luput dari perhatian Beliau.

Dalam sembilan kali Ramadhan yang pernah Beliau alami, misalnya, Beliau justru melakukan ekspedisi dan pengiriman pasukan. Di antaranya: Perang Badar (tahun 2 H), Penaklukan Makkah (tahun 8 H), dan Perang Tabuk (tahun 9 H) Di mana ada kita mengenal kejadian sedekah yang besar dan monumental yaitu disaat Abu Bakar Shiddiq Ra mengeluarkan sedekah seluruh hartanya dalam perang tsb; mengirimkan 6 askariyah (pasukan jihad yang tidak secara langsung Beliau pimpin); meruntuhkan berhala-berhala Arab seperti Lata, Manat dan Suwa’; meruntuhkan ibadah kaum munafiq dhirar, dll.
 
By Yusuf Mansyur Network on Facebook

MUTIARA IKHLAS RAMADHAN

MUTIARA IKHLAS RAMADHAN - Semakin bersih hati, hidupnya akan selalu diselimuti rasa syukur. Dikaruniai apa saja, kendati sedikit, ia tidak akan habis-habisnya meyakini bahwa semua ini adalah titipan Allah semata, sehingga amat jauh dari sikap ujub dan takabur. Persis seperti ucapan yang terlontar dari lisan Nabi Sulaiman AS, tatkala dirinya dianugerahi Allah berbagai kelebihan, "Haadzaa min fadhli Rabbii, liyabluwani a-asykuru am afkuru." (QS. An Naml [27] : 40). Ini termasuk karunia Tuhanku, untuk mengujiku apakah aku mampu bersyukur atau malah kufur atas nikmat-Nya.


Suatu saat bagi Allah akan menimpakkan ujian dan bala. Bagi orang yang hatinya bersih, semua itu tidak kalah terasa nikmatnya. Ujian dan persoalan yang menimpa justru benar-benar akan membuatnya kian merasakan indahnya hidup ini. Karena, orang yang mengenal Allah dengan baik berkat hati yang bersih, akan merasa yakin bahwa ujian adalah salah satu perangkat kasih sayang Allah, yang membuat seseorang semakin bermutu.

Boleh saja kita memakai segala apapun yang indah-indah. Namun, kalau tidak memiliki hati yang indah,demi Allah tidak akan pernah ada keindahan yang sebenarnya. Karenanya jangan terpedaya oleh keindahan dunia. Lihatlah, begitu banyak wanita malang yang tidak mengenal moral dan harga diri. Mereka pun tidak kalah penampilannya. Kendatipun demikian, secara fitrah manusia memahami mereka bukanlah pasangan yang baik secara hakiki, tetapi hanyalah memamerkan dirinya alat syetan yang mengajak manusia umumnya pria kepada hawa nafsu, dan demikian merekapun akan ketimpa kemalangan akibat dosanya. Kendati Mereka tetap diberi oleh Allah dunia yang indah dan melimpah hanyalah istidraj yaitu kesenangan dalam pelanggaran perintah Allah SWT, kesenangan yang menipu demi tertumpuknya dosa akibat memilih jalan hidup yang tidak diredhoi Allah.

Ternyata dunia dan kemewahan bukanlah tanda kemuliaan yang sesungguhnya karena orang-orang yang rusak dan durjana sekalipun diberi aneka kemewahan yang melimpah ruah oleh Allah. Kunci bagi orang-orang yang ingin sukses, yang ingin benar-benar merasakan lezat dan mulianya hidup, adalah orang-orang yang sangat memelihara serta merawat keindahan dan kesucian qalbunya. Para Nabi adalah paling bening hatinya, tidak ada level manusia menyamainya, bening dalam ketaatan kepada Allah, menyebarkan Dien Islam sebagai karir hidupnya, dan ibadah-ibadah sebagai penopang kekuatan jiwanya mengemban tugas, itulah rumus dijalan Allah SWT di level tertinggi.

Rasulullah SAW pakaiannya tidak bertabur bintang penghargaan, tanda jasa, dan pangkat. Akan tetapi, demi Allah sampai saat ini tidak pernah berkurang kemuliaannya. Rasulullah SAW tidak menggunakan singgasana dari emas yang gemerlap, ataupun memiliki rumah yang megah dan indah. Akan tetapi, sampai detik ini sama sekali tidak pernah luntur pujian dan penghargaan terhadapnya, bahkan hingga kelak datang akhir zaman. Apakah rahasianya? Ternyata semua itu dikarenakan Rasulullah SAW adalah orang yang sangat menjaga mutu keindahan dan kesucian hatinya. Tetap terjaga hatinya dijalan Allah, memuliakan umat manusia dengan Iman dan Islam walau cobaan, fitnah menghampiri.

Rasulullah SAW bersabda, "Ingatlah, dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Tetapi, bila rusak, niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama qolbu!" (HR. Bukhari dan Muslim).

Kecintaan kepada Allah, dimiliki para Nabi, mereka seakan hanya memikirkan dakwah, memerangi khurafat, syirik demi kebeningan keyakinan atas cintanya kepada Allah, seribu satu umat ini yang berazzam mengikuti tugas para Nabi. Bukti keikhlasan cinta karena tidak ingin mengecewakan Allah, menyepi dengan Robb-Nya setiap malam menguatkan jiwa, dan Ramadhan membantu kita menyibak tabir bahwa duniawi harus dibatasi, perintah Allah dijalani dengan maksimal, dengan zakat, sedekah digalakkan, amal ibadah diperbanyak dalam kerangka puasa dikesehariannya mengiringi amaliahnya untuk selalu ikhlas, menguatkan keikhlasan, itulah kunci pertolongan Allah. Ikhlas itu mengharapkan yang terbaik diserahkan secara tulus dengan niatan penuh karena tujuannya puncak kebaikan yaitu Allah SWT.

Senantiasa menyadari bahwa hidup di dunia ini hanya satu kali sehingga aku tidak boleh gagal dan sia-sia tanpa guna.

Ikhtiar yang disertai niat yang sempurna itulah tugasku, perkara apapun yang terjadi kuserahkan sepenuhnya kepada Allah Yang Maha Tahu yang terbaik bagiku.

Aku harus sadar betul bahwa yang terbaik bagiku menurutku belum tentu terbaik bagiku menurut Allah, bahkan mungkin aku terkecoh oleh keinginan harapanku sendiri. Betapa masih banyak pelanggaran, kesia-siaan hidup, dibandingkan ketaatannya.

Pengetahuanku tentang diriku atau tentang apapun amat terbatas sedangkan pengetahuan Allah menyelimuti segalanya. Sehingga betapapun aku sangat menginginkan sesuatu, tetapi hatiku harus kupersiapkan untuk menghadapi kenyataan yang tak sesuai dengan harapanku. Karena mungkin itulah yang terbaik bagiku. Tapi aku tahu yang terbaik bahwa hidup ini hanya untuk Allah, ujian dan cobaan yang ada akan terasa ringan bila mengikuti Petunjuk-Nya, Al Quran dan Al Hadist. Memahami dalil demi dalil, sebagai informasi terpenting kemenangan besar, dia akan fokus. Lain bila yang berhati kotor, ada tugas kantor malah fokus hingga sholatnya molor, dibenaknya apalagi selain duniawi tidak mengindahkan perintah Allah, HATI KOTOR hakikatnya hati yang berniatan selain Allah SWT, selain Agama Allah Dienul Islam.

Bila jamaah belum memahami ini maka akan terjebak kepada kesalahan pemahaman kebanyakan orang, semisal Puasa menahan marah padahal dulu Rosulullah SAW sampai perang badar dibulan Ramadhan, apakah artinya kita dibanding Rosulullah SAW ?. Bahkan dalam Qur'an Allah bantuin dengan ribuan malaikat, bantahan apalagi bila semuanya nyata, tetapi kita menyikapinya berbeda, tanpa mengkaji hakikatnya memperbodoh diri sendiri, kebiasaannya berpendapat sendiri, tanpa dalil dan Sunnah yang syar'i niscaya kesanain rawan dalam kesia2an hidup.. Hakikat nafsu adalah tunduk dalam perintah Allah SWT, apa yang dilarang jauhi, dan yang diperintahkan kerjakan maksimal dengan ikhlas, Ramadhan membentengi semua amal untuk ikhlas, memberikan yang terbaik dalam niatan, dan amal, karena Allah pemilik segala kebaikan. Sungguh merugi mereka yang gak berupaya memahami ini sedalam-dalamnya, ibarat kapal yang mudah terombang-ambing jalan2 selain Allah SWT.
 
By Yusuf Mansyur Network on Facebook

Kamis, 26 Juli 2012

BERJILBAB

BERJILBAB DIBULAN RAMADHAN, YES - Jika tidak sekarang, lalu kapan lagi? Apa tahun depan? Apa dua tahun lagi? Apa nanti jika sudah pipi keriput dan rambut ubanan? Inilah was-was dari setan supaya kita menunda amalan baik. Jika tidak sekarang ini, mengapa mesti menunda berhijab besok dan besok lagi? Dan kita tidak tahu besok kita masih di dunia ini ataukah sudah di alam barzakh, bahkan k...ita tidak tahu keadaan kita sejam atau semenit mendatang. So … jangan menunda-nunda beramal baik. Jangan menunda-nunda untuk berjilbab.


Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seandainya engkau berpuasa maka hendaknya pendengaran, penglihatan dan lisanmu turut berpuasa, yaitu menahan diri dari dusta dan segala perbuatan haram serta janganlah engkau menyakiti tetanggamu. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.” (Latho’if Al Ma’arif, 277).

Mala ‘Ali Al Qori rahimahullah berkata, “Ketika berpuasa begitu keras larangan untuk bermaksiat. Orang yang berpuasa namun melakukan maksiat sama halnya dengan orang yang berhaji lalu bermaksiat, yaitu pahala pokoknya tidak batal, hanya kesempurnaan pahala yang tidak ia peroleh. Orang yang berpuasa namun bermaksiat akan mendapatkan ganjaran puasa sekaligus dosa karena maksiat yang ia lakukan.” (Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih, 6: 308).

Al Baydhowi rahimahullah mengatakan, “Ibadah puasa bukanlah hanya menahan diri dari lapar dan dahaga saja. Bahkan seseorang yang menjalankan puasa hendaklah mengekang berbagai syahwat dan mengajak jiwa pada kebaikan. Jika tidak demikian, sungguh Allah tidak akan melihat amalannya, dalam artian tidak akan menerimanya.” (Fathul Bari, 4: 117).

Penjelasan di atas menunjukkan sia-sianya puasa orang yang bermaksiat, termasuk dalam hal ini adalah wanita yang tidak berjilbab ketika puasa. Oleh karenanya, bulan puasa semestinya bisa dijadikan moment untuk memperbaiki diri. Bulan Ramadhan ini seharusnya dimanfaatkan untuk menjadikan diri menjadi lebih baik. Pelan-pelan di bulan ini bisa dilatih untuk berjilbab. Ingatlah sebagaimana kata ulama, “Tanda diterimanya suatu amalan adalah kebaikan membuahkan kebaikan.

Orang yang tidak menutupi auratnya artinya tidak mengenakan jilbab diancam dalam hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128). Di antara makna wanita yang berpakaian tetapi telanjang dalam hadits ini adalah: (1) Wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang; (2) Wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17: 190-191).

Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa wajibnya wanita mengenakan jilbab dan ancaman bagi yang membuka-buka auratnya. Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Bahkan dapat disimpulkan bahwa berpakaian tetapi telanjang alias tidak mengenakan jilbab termasuk dosa besar. Karena dalam hadits mendapat ancaman yang berat yaitu tidak akan mencium bau surga. Na’udzu billahi min dzalik.

Puasa Harus Meninggalkan Maksiat

Setelah kita tahu bahwa tidak mengenakan jilbab adalah suatu dosa atau suatu maksiat, bahkan mendapat ancaman yang berat, maka keadaan tidak berjilbab tidak disangsikan lagi akan membahayakan keadaan orang yang berpuasa. Kita tahu bersama bahwa maksiat akan mengurangi pahala orang yang berpuasa, walaupun status puasanya sah. Yang bisa jadi didapat adalah rasa lapar dan haus saja, pahala tidak diperoleh atau berkurang karena maksiat. Bahkan Allah sendiri tidak peduli akan lapar dan haus yang ia tahan. Kita dapat melihat dari dalil-dalil berikut:

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“.. maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903).

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ

“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja.." (HR. Ibnu Khuzaimah 3: 242. Al A’zhomi mengatakan bahwa sanad hadits tersebut shahih)

Beralasan belum siap berjilbab karena yang penting hatinya dulu diperbaiki?

Kami jawab, “Hati juga mesti baik. Lahiriyah pun demikian. Karena iman itu mencakup amalan hati, perkataan dan perbuatan. Hanya pemahaman keliru dari aliran Murji’ah yang menganggap iman itu cukup dengan amalan hati ditambah perkataan lisan tanpa mesti ditambah amalan lahiriyah. Iman butuh realisasi dalam tindakan dan amalan”

Beralasan belum siap berjilbab karena mengenakannya begitu gerah dan panas?

Kami jawab, “Lebih mending mana, panas di dunia karena melakukan ketaatan ataukah panas di neraka karena durhaka?” Coba direnungkan!

Beralasan belum siap berjilbab karena banyak orang yang berjilbab malah suka menggunjing?

Kami jawab, “Ingat tidak bisa kita pukul rata bahwa setiap orang yang berjilbab seperti itu. Itu paling hanya segelintir orang yang demikian, namun tidak semua. Sehingga tidak bisa kita sebut setiap wanita yang berjilbab suka menggunjing.”

Beralasan lagi karena saat ini belum siap berjilbab?

Kami jawab, “Jika tidak sekarang, lalu kapan lagi? Apa tahun depan? Apa dua tahun lagi? Apa nanit jika sudah pipi keriput dan rambut ubanan? Inilah was-was dari setan supaya kita menunda amalan baik. Jika tidak sekarang ini, mengapa mesti menunda berhijab besok dan besok lagi? Dan kita tidak tahu besok kita masih di dunia ini ataukah sudah di alam barzakh, bahkan kita tidak tahu keadaan kita sejam atau semenit mendatang. So … jangan menunda-nunda beramal baik. Jangan menunda-nunda untuk berjilbab.”

Perkataan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berikut seharusnya menjadi renungan,

إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

“Jika engkau berada di waktu sore, maka janganlah menunggu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu waktu sore. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang sakitmu dan manfaatkanlah hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Bukhari no. 6416)
 
Ustadz Yusuf Mansyur on Facebook

RENUNGAN RAMADHAN

BULAN SUCI RAMADHAN - Dengan anjuran bertadarus, tilawah dll. Ini bulan sarana untuk melatih diri, dibulan inilah saat yang tepat untuk mensucikan ayat-ayat Quran dihati kita. Bagaikan Surat wasiat sang bunda tercinta, yg disucikan, disakralkan, dijunjung tinggi oleh anaknya, berkaca2 tu anak menatap huruf demi huruf, mencium tu surat dgn niatan mengamalkan isi wasiat sang bunda.


Bila itu surat dirampas sianak siap merebut, bila surat itu akan ditambah2i kalimatnya oleh seseorang, maka si anak gak bakalan redho. Kenapa? Karena demi cinta kpd bunda. Tidak sampai hati sianak mengakali tulisan bundanya, apalagi sampai merekayasa dengan karangannya atau jauh niatnya sampai mengakali. Itulah cinta yg tulus.

MAHA SUCI ALLAH, Sikap kita kepada Qur'an jauh nilainya dari perumpamaan sianak diatas. Menuntut ketulusan dalam pengabdian, penghambaan kepada Al Kholiq. Dan amanah hidup yg merupakan tanggung jawab besar. Hingga Abu Bakar shiddiq berandai2 bila ia bisa memilih, antara menjadi manusia dan daun, maka ia sebaiknya memilih menjadi daun-daun saja yg tidak memikul amanah kehidupan sbg khalifah, karena Ia Abu Bakar Shiddiq Radhiyallaahu anhu faham begitu beratnya amanah hidup ini.

Mensucikan ayat2 Allah itulah program bathin kita dalam setiap Ruku dan Sujud, agar Shalat berfungsi sebagai Tiang Agama (Dibaca Dien). Dengan demikian ia menjadi hamba yang taat, tidak suka membantah perintah Allah dan Rosul-Nya, bahkan hidupnya dikasihin penuh ke Allah dan Rosul-Nya.

Rosulullah dan Para Shahabat, ketika datang perintah Hijrah, maka semuanya meninggalkan Mekkah keMadinah, rumah ditinggal, dagangan ditinggal, bahkan keluarganya, karena demi mentaati Allah SWT. Dan yang paling penting demi bisa menjaga Diennya agar tidak terkontaminasi jahiliyah, agar bisa eksis menyebarkan Risalah, dan terbukti di Madinah itu Islam menyebar menyeberangi benua, hingga ke Asia dan di Indonesia dikenal sebagai mayoritas penduduknya memeluk Islam.

Manusia-manusia Ramadhan, sungguh ngepas disematkan kepada mereka, berani mengorbankan nikmat dunia demi redho Allah, dan kesanalah semaksimal mungkin menjadi target kita, karena mereka sebaik-baiknya generasi Umat Islam hasil dari Ibadah yang tercermin dihati, tegak dalam diri, dan menjadi wali-Nya dimuka bumi.

HIKMAH AL-QUR'AN diturunkan dalam Ramadhan ini, agar kita dalam bulan ini dapat menghayati dan memperbaharui niatan untuk kembali hidup dalam naungan Quran. Nyalakan Semangat Kembali kepada Syariat Allah. Bukan hanya dibaca-baca tanpa makna.

Rasulullah Saw bersabda artinya:

Akan datang masa, orang2 membaca Al-Quran namun hanya ditenggorokannya saja" (HR-Bukhari)

Masjid nampak penuuuh jamaah yg shalat mendirikan tiang Agama, Alhamdulillah, Semoga semakin banyak pula yang peduli Agama-Nya tegak.

Tidak rela melihat nilai2 Agamanya goyah, dilanggar, rapuh, terfitnah dalam kehidupan diri, dan lingkungannya. Seperti para Shahabat.

Miris orang rajin Sholat tapi keluarganya gak keurus, anaknya dibiarkan melihat TV berjam2 dan Shubuh kesiangan. Miris kalo ada orang hobi Tadarus, hadir dipengajian tapi buka aurat juga hobi pakai you can see kemana-mana, dan genitnya gak ketulungan, ibadah gak nyampe kehati ke bathin, akibatnya jadilah ibarat ibadah yang tidak ada petunjuk dalam dirinya.

Rasulullah Saw bersabda artinya:

Akan tiba masanya, Masjid dipenuhi dengan orang, tapi kosong dari petunjuk/hidayah (Ibnu babuya, Tsawab Ul-A mal)
 
Ustadz  Yusuf Masyur on Facebook