SEGENAP KELUARGA BESAR HARIS SUROTO SGL Mengucapkan * SELAMAT TAHUN BARU ISLAM 1440 HIJRIAH - TAQOBALALLAHU MINNA WAMINKUM SIAMANNA WASIAMAKUM - MINAL AIDIN WAL FAIDZIN - Mohon Maaf Lahir dan Batin *

Kamis, 02 Agustus 2012

BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

( TELADAN ) PARA SHALIHIN DAHULU BERBAKTI KPD ORANGTUA - Beberapa kisah ini menakjubkan, semoga semua bisa terpacu untuk berbakti kepada kedua orangtua yang memiliki pahala yang teramat besar disisi Allah SWT. Ibnu ‘Umar Rodhiyallohu ‘anhuma pernah berkata kepada seorang laki-laki, “Apakah kamu takut masuk neraka dan ingin masuk surga?” Laki-laki itu menjawab, “Tentu.” Ibnu ‘Umar Rodhiyallohu ‘anh...uma berkata, “Berbaktilah pada ibumu. Demi Alloh, sekiranya kamu lemah lembut dalam berbicara kepadanya dan memberinya makan, niscaya kamu benar-benar akan masuk surga, selama kamu menjauhi dosa-dosa besar.”

Dari Muhammad bin Sirin Rohimahulloh, dia berkata, “Pada masa ‘Utsman bin Affan, harga pohon kurma mencapai seribu dirham. Usamah menuju suatu pohon kurma, lalu menggigitnya dan mengeluarkan daging pohon kurma yang paling lunak, kemudian menghidangkannya untuk ibunya. Orang-orang berkata kepadanya, “Apa yang membuatmu melakukan hal ini, sementara kamu tahu bahwa harga pohon kurma sampai seribu dirham?” Dia menjawab, “Karena ibuku memintanya, dan tidaklah beliau meminta sesuatu kepadaku yang aku mampu, melainkan aku pasti akan memberikan itu kepadanya.

Muhammad bin ‘Abdurrohman bin Abu Az-Zinad adalah seseorang yang sangat berbakti kepada ayahnya. Suatu kali ayahnya memanggil, “Wahai Muhammad.” Ternyata dia tidak menyahut hingga datang kepada ayahnya dalam keadaan kepala tertunduk lalu menyahutinya. Sang ayah kemudian menyuruhnya melakukan suatu keperluannya. Dia langsung menyanggupinya tanpa bertanya-tanya karena ta’zhim kepadanya, hingga dia bertanya kepada orang lain yang paham tentangnya

Dari Anas bin An-Nadhr Al-Asyja’i, dia berkata, “Pada suatu malam ibu Ibnu Mas’ud pernah meminta air minum kepadanya. Tatkala Ibnu Mas’ud datang membawakan air kepadanya, ternyata dia mendapati ibunya sudah tidur, maka dia tetap memegang air tersebut di dekat kepala ibunya hingga pagi hari.”

Zainal Abidin adalah seorang yang sangat berbakti kepada ibunya, hingga pada suatu saat dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya engkau adalah orang yang sangat berbakti kepada ibumu, akan tetapi kami tidak pernah melihatmu makan satu piring bersamanya.” Maka dia menjawab, “Aku khawatir tanganku mendahuluinya mengambil sesuatu yang telah dilihat matanya sehingga aku menjadi durhaka kepadanya.”

Sungguh betapa kita masih sangat jauh dalam bertauladan kepada para Salafush Sholeh, terutama dalam hal Birrul Walidain. Tapi, hendaknya kita terus berusaha untuk menjadi anak-anak yang sholeh, yang mengerti agama Islam dengan benar, sehingga Ilmu Islam kita tersebut bisa bermanfaat bagi kita untuk memperbaiki terus bakti kita kepada ayah dan ibu, aby dan ummy, papi dan mami kita hingga sempurna dan memperoleh Ridho Alloh ‘Azza wa Jalla. Jangan pernah menyerah dan malu untuk memperbaiki kesalahan kita. Semoga Alloh memberi Hidayah kepada kita semua dan semoga Alloh menjadikan kita orang-orang yang berbakti kepada kedua orang tua kita…Aamiin

سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: اَلصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا، قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: بِرُّالْوَالِدَيْنِ، قَالَ: قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ

“Aku bertanya kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ‘Amal apakah yang paling utama?’ Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya).’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Nabi menjawab: ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa?’ Nabi menjawab, ‘Jihad di jalan Allah’

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسُخْطُ الرَّبِّ فِي سُخْطِ الْوَالِدِ

“Darii ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallaahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ridha Allah bergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua

Sumber: Dari buku “Sungguh Merugi Siapa Yang Mendapati Orang tuanya Masih Hidup Tapi Tidak Meraih Surga” Penulis: Ghalib bin Sulaiman Al-Harbi, penerbit: Darul Haq
 
By Yusuf Mansyur Network on Facebook

KEAJAIBAN SEDEKAH TERSEMBUNYI

KEAJAIBAN SEDEKAH TERSEMBUNYI - Ada sebuah kisah yang menceritakan bahwa pada zaman dahulu bangsa Israil dilanda peceklik. Banyak orang yang menderita kelaparan. Tidak sedikit pula yang meninggal dunia akibat tidak makan. Namun masih ada orang kaya tapi tak merasa sama sekali terhadap adanya musibah itu. Orang kaya tersebut memiliki seorang anak gadis yang baik hati dan budi pe...kertinya. Suatu malam gadis itu sedang makan. Tiba-tiba datanglah seorang pengemis yang berdiri di ambang pintu. Berikan aku sedekah semata-mata karena Allah meskipun hanya sepotong roti!. Ucap pengemis itu dengan wajah berseri-seri.


Gadis itu segera beranjak dan menghampirinya. Ia memberikan sepotong roti kepada pengemis itu dengan ikhlas. Senyumnya menandai betapa ia sangat senang memberikan sepotong roti kepada orang yang jauh lebih membutuhkan daripada dirinya. Bersamaan dengan itu, ayahnya yang kikir baru saja datang dari bekerja. Rupanya sang ayah mengetahui perbuatan ankanya yang dianggap sangat keterlaluan. Ia melotot dan memarahi anak gadisnya.

Setelah memarahi habis-habisan, dengan emosi yang tak terkontrol, sang ayah kemudian bergegas pergi ke dapur dan mendapatkan pisau yang tajam. Sebentar saja pisau itu sudah sampai di hadapan anaknya. Dipegangnya tangan kanan anak itu dan dengan serta merta pergelangannya dipotong. Sang ayah rupanya tak mau peduli apakah anaknya akan cacat atau tidak.

Tak lama kemudian usaha orang kaya itu bangkrut. Semakin lama semakin menurun dan akhirnya benar-benar menjadi orang miskin. Hutangnya menjadi banyak dan membebani pikirannya sepanjang hari dan malam. Bekas orang kaya itu jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Beberapa waktu setelah itu, istrinya pun meninggal dunia pula.

Kini gadis itu menjadi sebatang kara. Sementara itu, perekonomian di negeri Israil kembali pulih. Orang-orang yang sebelumnya miskin kini menjadi makmur. Dan gadis itu terpaksa menjadi pengemis demi menopang kebutuhan hidupnya.

Suatu ketika ia berdiri di depan rumah bagus dan mewah. Ia berharap pemilik rumah kaya itu memberi sepotong roti atau apa saja yang dapat dimakan untuk mengganjal perutnya.

Sesaat kemudian keluarlah seorang wanita setengah baya dan menghampiri gadis tersebut. Ia memandangi gadis itu dengan penuh simpati. Akhirnya, gadis itu kemudian diambil anak angkat. Wanita pemilik rumah mewah itu diam-diam mempunyai rencana untuk menjodohkannya dengan anak lelakinya yang pergi merantau ke negeri orang dan tak kunjung mengirimkan kabar.

Setelah anaknya pulang, segeralah gadis itu dikawinkan dengannya. Mereka menggelar pesta meriah dan mengundang kenalannya yang rata-rata orang kaya dan pejabat di negeri itu.

Di tengah pesta perkawinan yang digelar, sang pengantin laki-laki merasa kurang senang melihat ulah istrinya yang dianggap kurang sopan, karena makan dengan tangan kiri. Pengantin laki-laki berusaha menegurnya. Tetapi pengantin wanita itu tetap merasa sulit karena selama ini ia menyembunyikan cacat tangannya sehingga tak seorang pun tahu.

Tiba-tiba terdengar suara dari luar, Keluarkanlah tangan kananmu. Sungguh, engkau pernah bersedekah sepotong roti dengan ikhlas karena Allah. Maka tanganmu sempurna kembali seperti semula!

Mendengar suara tersebut, terpaksa pengantin wanita mengeluarkan tangan kanannya. Terjadilah suatu keajaiban: telapak tangannya yang terputus itu berubah seperti sediakala. Pengantin wanita itu sangat heran melihat kejadian yang sangat menakjubkan itu.

Itulah keberuntungan orang yang ikhlas bersedekah, walau hanya sebatas roti. Sungguh balasan Allah jauh lebih besar dari apa yang kita bayangkan. Kedermawanan seorang gadis dalam kisah di atas menunjukkan bahwa sedekah merupakan wujud dari kepedulian sosial yang penting dikedepankan

Petikan didalam kitab Tanbihul Ghafilin dijelaskan juga bahwa sedekah itu tidak hanya membawa keberuntungan di akhirat saja sebentuk keyakinan yang dianggap abstrak oleh kebanyakan orang.

Akan tetapi di dunia pun banyak keberuntungan-keberuntungan yang luar biasa dahsyat.

Karena itu tak heran jika Imam Syafi dalam syairnya berucap:

"Kudermakan apa yang ada, walaupun sepanjang malam aku kelaparan dan dahaga"

Apalagi Ramadhan, didukung oleh energi shaum puasa, keihklasan dan keberkahannya membuat doa mustajab dan Insya Allah lebih naik-senaik2nya, tidak heran Abu Bakar Shiddiq Ra sebaik-baik manusia dari Umat Rosulullah SAW menginfakkan seluruh hartanya sampai Nol di bulan Ramadhan ia berInfaq dijalan Allah saat perang Tabuk.   By Yusuf Mansyur Network on Facebook

Selasa, 31 Juli 2012

TAQWA PENENTU KEMENANGAN

( AHLI SYURGA ) TAQWA PENENTU KEMENANGAN - Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, panutan yang mulia dan agung, tidak pernah tergoda sedikitpun dengan pernik-pernik dunia. Jika baginda Rasulullah Shallahu Alaihi Wasslam, tergoda dengan kehidupan dunia, maka beliau manusia yang pertama, memiliki kekuasaan, jabatan, harta, dan isteri-isteri yang paling cantik, yang pernah ditawarkan kafir Qurays. Teta...pi, itu bukanlah pilihan oleh panutan yang mulia, Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam


Ketika awal dakwahnya, beliau di Makkah, sudah mendapatkan tawaran dari para pembesar kafir Qurays, agar Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, mau melakukan "tanazzul" (kompromi) dengan kafir Qurays. Tetapi, Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam menolak. Segala atribut dunia ditawarkan oleh kafir Qurays. Jabatan, harta, dan wanita (Tiga T), tetapi tetap Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, lebih memilih tetap dalam ketaatannya kepada Allah Rabbul Alamin.

Beliau Shallahu Alaihi Wassalam tetap dengan sabar terus mendakwahkan agama Allah ke seluruh penduduk di jazirah Arab. Rasulullah tetap berdakwah, mendidik, mengajarkan al-Qur'an kepada masyarakat, dan dari rumah ke rumah. Sampai Allah Azza Wa Jalla mempertemukan dengan kafir Qurays dalam medan jihad, dan hanya dengan dibantu para shahabat yang jumlahnya masih sedikit.

( Sejarah Kemenangan )

Allah Azza Wa Jalla, memberikan kemenangan kepada Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, yang kemudian dikenal dalam sejarah sebagai Perang Badr, dan sejarah mencatatnya sebagai kemenangan pertama dalam Islam, Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, mengalahkan kafir Qurays di Makkah, yang dikenal dengan "Fathul Makkah". Rasulullah tidak membuat skenario dan rencana atas kemenangannya. Tetapi, semuanya itu, yang membuat skenario adalah Allah Azza Wa Jalla.

Rasulullah Shallahu Alalihi Wassalam, hanya mengajak para shahabat, tunduk, patuh, taat serta bertaqwa kepada Allah Rabbul Alamin. Karena, hanya dengan ketaatan, ketundukan, dan serta kepatuhan kepada Allah Rabbul Alamin itu, yang akan membawa kemenangan, tidak ada bantahan, pendapat-pendapat dilandasi nafsu kenyamanan duniawi, semua tunduk kepada Allah dan Rasul. Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, terus mengajarkan sifat taqwa dan hirsy (semangat) kepada seluruh shahabat.

Sifat taqwa dan hirsy itulah yang membawa kemenangan dalam dakwah Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam. Kemenangan tidak ada kaitannya dengan sedikit atau banyaknya pengikut. Tetapi, kemenangan dalam Islam itu, sangat ditentukan sifat taqwa dan hirsy dari para shahabat. Semuanya itu dibuktikan dalam sejarah. Peristiwa yang terjadi dalam Islam, dan kemenangan Islam itu, selalu identik dengan sifat taqwa dan hirsy. Sebaliknya kekalahan dan kehinaan itu, selalu identik dengan kesarakahan dan terbuai dengan kenikmatan duniawi.

( Pelajaran Kekalahan )

Perang Uhud kalah dilatari oleh sebagian tentara umat Islam tergiur dengan harta yang disebarkan sebagai pancingan musuh, ketika itu pasukan panah tidak lagi menuruti perintah Rasulullah SAW untuk bertahan diatas bukit, tetapi malah turun kebawah ketika melihat harta yang di sebar-sebarkan.

Kekalahan kaum Muslimin di Eropa seperti dikisahkan dalam buku cerita yang berjudul "Granada", menggambarkan para Sultan, yang sudah dibeli oleh para Kaisar Kuffar, dan mendapatkan kekuasaan, dan mereka di baptis, dan harus meninggalkan agama mereka, yang selama ini menjadi keyakinan mereka. Islam pernah berjaya selama 8 abad di daratan Eropa, dan kemudian hilang, akibat para penguasanya sudah tertipu dunia. Dikala itu kelalaian nampak dimana-mana, harta berlimpah ketika menjadi lalai itulah waktu-waktu menuju kehancuran baik skup pribadi, masyarakat, bahkan dunia. Kita masih ingat pristiwa Bosnia, kaum muslimin disana sebelumnya terbuai dengan budaya eropa, menganggap Islam bukan sebagai identitas disebagian besar masyarakatnya, kemakmuran akhirnya menjadi petaka, dan pelajaran bagi kita semua.

Kekalahan karena terlampau cinta duniawi, dikala yahudi dan sekutunya berlomba-lomba bekerja sama menindas negeri-negeri Muslim, dengan harta yang sangat banyaknya. Justru Umat Islam termakan dengan umpan2 syahwat, kekikiran, sangat berbeda kontras dengan para shahabat Rosul dalam memperjuangkan Islam agar tegak menjadi rahmat seluruh alam.

Semua sudah dicontohkan Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, dan semua sangat nyata dalam kehidupan beliau. Rasulullah bersama Siti Khadijah, orang yang paling kaya, karena sukses dalam berdagang. Tetapi, Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, manusia yang paling miskin, di saat beliau meninggal. Tidak ada harta yang ditinggalkan. Sedikitpun yang bisa dinilai.

Bilal bin Rabah tak pernah mau bersedia mengikuti kafir Qurays, dan mengikuti agama mereka. Meskipun menghadapi siksaan yang amat dahsyat. Di jemur di terik matahari, dan diikat serta diseret dengan kuda di padang pasir. Tetapi, Bilal bin Rabah, tak mau menukar aqidah dengan kenikmatan dunia

Merekalah Rasulullah SAW, shahabatnya adalah manusia yang distatuskan bertaqwa,standarisasinya mereka bukan siapapun, taqwa dalam mengutamakan Allah dan agama-Nya, tidak heran ketaqwaan ini sangat mahal, boleh jadi hanya 100.000 banding satu, seperti sedikitnya manusia2 pilihan yang Allah pilih menjadi Rasulnya. Didunia kelas VIP kita kejar, jabatan karier teratas pada berlomba2, padahal mudah hilang, lenyap tertelan waktu, bahkan banyak sekali yang merana, sakit jiwa lahir dan bathin dimasa tuanya, tanpa amal-amal yang pasti, bahkan berpotensi lumuran dosa, karena kekayaan yang dipakai tidak sesuai jalan para Nabi dan Shahabat sebagai manusia terbenar yang Allah pilihkan untuk kita teladani.

Merekalah yang tersukses dalam taqwa, dimana prosesnya ada dalam Ramadhan ini, kita dilatih berkorban bathin, berkorban menelaah hati agar tunduk kepada Allah SWT, agar bertaqwa, taqwa yang standarisasinya para Nabi dan Shahabatnya, bukan orang lain yang gak aman fitnah dan ujian, dan gak ada di Quran sebagai manusia yang diredhoi Allah SWT.

Taqwa itu cinta, cinta perusahaan jelas orang menghabiskan mengembangkan usahanya, habis2an. Cinta bukan sekedar kata, dan ucapan tanpa perjuangan, orang yang masuk ramadhan tanpa cinta biasanya bakal kalah ditengah jalan, orang yang gak meniatkan yang terbaik berkorban demi Allah swt maka biasanya mudah tergoda ternoda, Di Ramadhan ini adalah tempat kita evaluasi dir, hidup akan kemana, untuk apa, dan kepada siapa yang kita tuju, seperti yang kita baca disetiap awal shalat-shalat kita

( Pembeda Haq dan Bathil )

Tugas para pengikut Rasulullah Shallahu Alaihis Wassalam, hanyalah mendakwahkan agama-Nya kepada seluruh umat manusia. Dengan segala pengorbanan. Bukan dengan menggunakan agama menjadi alat kedok, mensiasati Allah dan Rasulnya, agar mendapatkan kemenangan dunia yang hina dina itu. Manusia-manusia yang menipu Allah Rabbul Alamin, dan mereka tidak berdakwah yang menegakkan agama-Nya, pasti akan menjadi hina.

Kewajiban seorang Mukmin hanyalan mendakwahkan agama Allah, dan membela agama-Nya. Itulah jalan kemenangan yang akan diberikan kepada Allah kepada Mukmin.

Tidak bertanazzul (berkompromi) dengan musuh-musuh Allah, yahudi dan nasrani, mengikuti ajaran mereka, dan menjadikan mereka sebagai teman setia, dan kemudian meninggalkan aqidahnya, serta mengubahnya dengan nilai-nilai jahiliyah dan kafir.

Cara-cara bertanazzul itu bukanlah jalan Islam, jalan kebenaran yang diberikan oleh Rasulllah Shallahu alaihi Wassalam. Tidak akan pernah terjadi dalam hidup ini, antara al-haq dengan al-bathil itu bisa bersatu.
 
By Yusuf Mansyur Network on Facebook

SEDEKAH MENEMBUS KESULITAN

( KEJIWAAN ) SEDEKAH MENEMBUS KESULITAN - Balasan sedekah tidak berarti berupa materi, namun bisa saja berkah sedekah tersebut berimbas pada ketenangan hati, khusyuknya ibadah, terjaganya diri dari belanja sia-sia. Selain itu manfaat sedekah juga mampu menjadikan manusia sebagai pribadi yang mampu ikhlas kapan saja harta titipan Allah itu harus lepas dari tangannya. Biasa sedekah mental dan jiwany...a kokoh, gak gantung sama duniawi suatu saat ada ujian hilang harta ia akan kuat kebiasa gak cinta berlebihan sama harta. Dengan sedekah waktu berlalu gak akan sia-sia, harapan hidupnya digantungkan kepada Allah. Jiwanya akan lapang, ketenangannya bersama jaminan kebesaran Allah SWT yang memiliki kehidupan, secara lahir bathin orang demikian akan sehat jauh dari sakit jiwa


Sedekah itu memang berat jika tidak dilandasi iman yang kuat, padahal Allah menjanjikan balasan yang luas bagi insan yang menyedekahkan hartanya untuk kepentingan di jalan Allah.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tuju bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-NYA) lagi Maha Mengetahui” (Al Baqarah 261).

Orang yang dermawan akan menjadikan keimanan diri mereka boss atas diri, harta dan hatinya. Iman yang menguasai jiwanya, maka kehidupannya akan nyaman. Beda dengan nafsu yang menguasai jiwa seseorang.

Seseorang tidak akan mencapai tingkat kebajikan di sisi Allah, sebelum ia dengan ikhlas menginfakkan harta yang dicintainya di jalan Allah.

Dahulu, setelah surat Ali imron ayat 92 turun, ("Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apapun yang kamu infakkan, tentang hal itu, Allah Maha Mengetahui"), para sahabat berlomba-lomba berbuat kebaikan.

Abu Thalhah Al-Anshari seorang hartawan dikalangan Anshar datang menemui Rasulullah saw. dengan memberikan sebidang kebun kurma yang dicintainya untuk diinfakkan di jalan Allah.

Pemberian itu diterima oleh Rasulullah dengan baik dan memuji keikhlasannya.

Allah SWT Berfirman artinya :

Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat buruk (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui" (Qs Al-Baqarah 268).

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna ayat "Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan", maksudnya: setan menakut-nakuti kalian dengan kefakiran supaya kalian tetap menggenggam tangan kalian, sehingga tidak menginfakkanya dalam keridhaan Allah.

Sedangkan ayat "Dan menyuruh kamu berbuat buruk", maksudnya: bersama larangannya kepada kalian dari berinfak karena takut miskin, setan menyuruh kalian dengan kemaksiatan, perbuatan dosa, keharaman, dan menyalahi perintah yakni Allah Ta'ala. Membelanjakan kepada kelalaian, nonton bioskop, dugem, bertamasya menghabiskan waktu di mall-mall hingga menjadi kebiasaan menyita sebagian besar waktu dan akhirnya hatinya menjadi keras, anaknya menjadi manja, kecenderungan tersebut menjadi rutinitas tanpa disadari hatinya menjadi asoy duniawi, keluarga kebawa lalai, kelamaan kehidupannya menyimpang, anaknya menjadi penuntut harta warisan, tukang palak, istrinya menjadi matre, kehidupannya menjadi kiamat lalu mengeluh-mengeluh kenapa begini, kenapa begitu karena kejiwaannya dibawa kepada kecenderungan duniawi, kejiwaannya dibawa kepada kepusingan kehidupan yang sempit, kejiwaannya terlalu terbudaki dunia, sampai rejekinya disita suatu saat kelak, berujung ajal dengan beban yang gak ringan.

Kembali kepada tafsir ayat diatas, menurut Al-Jazairi, ayat "Dan menyuruh kamu berbuat buruk" berarti setan menyeru kalian untuk mengerjakan perbuatan buruk, di antaranya bakhil dan kikir. Karenanya Allah Ta'ala memperingatkan para hamba-Nya dari setan dan godaannya, lalu mengabarkan bahwa setan menjanjikan dengan kefakiran, artinya: menakut-nakuti mereka dengan kemiskinan sehingga mereka tidak mengeluarkan zakat dan shadaqah. (Sebaliknya) ia menyuruh mereka untuk berbuat buruk sehingga mengeluarkan harta mereka dalam keburukan dan kerusakan

Dalam hadits Mu'adz, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

والصَّدقَةُ تُطْفِئُ الخَطيئَةَ كَما يُطفئُ الماءُ النارَ ، وصَلاةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوفِ اللَّيلِ

"Shadaqah menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan shalat seseorang di tengah malam." (HR. Al-Tirmidzi)

Abu Darda' Radhiyallahu 'Anhu berkata,

صلوا في ظلمة الليل ركعتين لظلمة القبور، صوموا يوماً شديداً حرُّه لحر يوم النشور، تصدَّقوا بصدقة لشرِّ يوم عسير

"Shalatlah dua rakaat di kegelapan malam untuk gelapnya kubur, berpuasalah di hari yang sangat panas untuk (menebus) panasnya hari perhimpunan, dan bershadahlah dengan shadaqah (menebus) untuk hari yang sulit."
 
By Yusuf Mansyur Network on Facebook

Jumat, 27 Juli 2012

SHALAT SEBAGAI SARANA PENOLONG

( HIKMAH ) SHALAT SEBAGAI SARANA PENOLONG - Rasulullah saw selalu menjadikan shalat sebagai solusi berbagai masalah seperti yang kita baca dalam berbagai riwayat. Hudzaifa bin Al Yaman menceritakan, “Jika Rasulullah saw ditimpa sebuah kesulitan beliau bersegera melaksanakan shalat.” Begitu juga yang diriwayatkan oleh Haritsah bin Madhrib, Aku mendengar Ali ra. berkata, ‘Kamu melihat kami dan segal...a keadaan kami pada malam perang Badar kecuali Rasulullah saw, beliau mengerjakan shalat dan berdo’a hingga datang waktu subuh.’”


Sering kali jika seseorang sakit dia seolah-olah ada alasan untuk tidak shalat. Padahal bila sebisanya diusahakan sesuai kemampuan, sesuai syarat2 Shalat Insya Allah akan meringankan bebannya dan penyakitnya

Ada banyak waktu dimana kita bisa selalu berinteraksi dengan Allah, melalui shalat 5 waktu yang wajib belum shalat sunnahnya. Bagaimana mungkin Allah akan meninggalkan hamba yang selalu mengingatnya. Ketika kita memohon ampun seperti itulah kita harus bersedia sebenarnya menempatkan diri kita sebagai benar-benar seorang hamba.

Allah SWT Berfirman. "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS Al Baqarah:45-46)

Bukan sembarang shalat yg akan menjadi penolong kita. Dalam ayat tersebut, disebutkan bahwa orang yg bisa menjadikan shabar dan shalat sbg penolong ialah mereka yang khusyu’. Tidak ada ukuran baku dalam shalat khusyu’, oleh karena itu kembali kita meminta kepada Allah SWT agar menjadikan shalat kita dengan khusyu’.

Shalat yang khusyu adalah shalat yang dikerjakan dalam nuansa harap, cemas, dan cinta, serta dengan takbir yang sempurna, lantunan ayat yang tartil, ruku’ dengan tawadhu, sujud dengan diliputi kerendahan hati dan keikhlasan. Tentu tidak lupa harus sesuai dengan syariat.

Shalat adalah sebagai penghubung rasa penghambaan kita kepada Allah, sejatinya Shalat sebagai Tiang yang menyangga nilai2 Keislaman pada diri kita.

Berusaha yang terbaik sbg seorang hamba itulah yg menjadi fikirannya saban hari, karena saat shalatnya bertakbir Allahuakbarnya beneran diamalin dikehidupan keseharian, Subhanallah dalam sujudnya juga beneran dia mensakralkan nilai2 Islam, gak ada celaan sama hukum2 Allah, melihat ayat dan hadist langsung diresapi, diterima dan diusahakan diamalin, maka Insya Allah itulah rata2 seorang hamba yg berhasil Shalat, ya seperti para Shohabat Rasulullah SAW, Tabiin dimana didalam Quran memuji mereka sekaligus petunjuk kita dalam mengamalkan Islam

Hari esok adalah ghaib, kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok, bisa saja esoklah datangnya kemudahan tersebut. Jadi selalu ada harapan di hari esok. Justru jika kita tidak memiliki harapan di hari esok, artinya kita sudah sok mengetahui apa yang akan terjadi esok hari. Kita menganggap esok hari akan seperti ini saja, maka sama artinya kita mendahului ketentuan Allah SWT. Allahlah yang

menentukan hari esok akan seperti apa, dan kita memang tidak diberitahu. Bisa saja besok hidup kita lebih baik. Besok, selalu ada harapan untuk kita. Begitu juga dengan rezeki, mungkin saat ini begitu sulit karena akan ada kemudahan setelah ini. Jangan sampai kita menyerah dengan cara tidak mau mencari rezeki yang lebih besar karena takut kehilangan rezeki yang sudah ada.

Ada juga yang berharap kepada orang dengan cara menjilat dan merendahkan diri dihadapan orang lain. Allah sudah menyiapkan rezeki bagi kita, jadi meskipun saat ini serasa sulit, sebenarnya sudah Allah siapkan untuk kita, maka tambahlah infaq sedekah, ibadah2 lain semampunya, lalu tambah doa, memperbaiki pula semua kekurangan, dakwah ikutin sunnah Nabi dan Walinya yg doanya hebat2 berkat izin Allah Swt, itulah yang lebih jaminan dibanding apa yang ada didunia yang serba gak jamin. Binatang aja dijamin, apalagi manusia yang punya akal, fikiran, dan keyakinan di jalan-Nya,

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempatpenyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).(QS. Huud:6).
 
By Yusuf Mansyur Network on Facebook